Astaga, Pasar di Perbatasan Skouw Jual Produk PNG


Salah seorang pengunjung di lapak milik penjual oleh-oleh khas PNG di Wutung, Provinsi Sandaun, Papua Nugini.

Salah seorang pengunjung di lapak milik penjual oleh-oleh khas PNG di Wutung, Provinsi Sandaun, Papua Nugini.

Batasnegeri.com: Beberapa ruko di pasar Skouw yang terletak di area marketing point dekat pintu perbatasan RI-PNG menjajakan sejumlah produk asal Papua Nugini (PNG). Ini tentu tidak sejalan dengan himbauan Presiden Joko Widodo saat peresmian PLBN tersebut pada 8 Mei 2017 lalu. Presiden meminta agar berbagai produk Indonesia termasuk hasil kerajinan rumah tangga dan cinderamata khas Papua dapat dijual di tempat itu untuk meningkat pereokonomuan warga setempat.

Produk PNG yang dijual antara lain cinderamata khas PNG yang didatangkan dari Wutung dan Vanimo, Provinsi Sandaun, PNG. Tampak di lapak-lapak atau stan penjual para pengunjung menawarkan oleh-oleh bermotif ukiran dan bendera PNG, seperti cangkir, gelang, kain dan kalung.

Salah seorang penjual, Prisila Anti mengaku sedikitnya 500-an pengunjung singgah pada lapaknya, terutama pengunjung dari Jayapura, Indonesia. Harga penjualan oleh-oleh buatannya pun bervariasi. Transaksi jual-beli di pasar itu juga menggunakan mata uang PNG, Dollar Kina.

“PNG cup (cangkir PNG) dijual 50 ribu rupiah per buah, payung 80 rupiah atau 15 kina per buah,” kata perempuan asal Kampung Wutung, Provinsi Sandaun ini, Minggu (2/7/2017).

Menurutnya produk-produk PNG paling diminati wisatawan di perbatasan PNG – Indonesia meski orang PNG sendiri tak tertarik membelinya.

“Mereka (pengunjung Indonesia) menyukai produk PNG,” katanya.

Meski demikian, ia enggan menyebutkan hasil penjualan setiap harinya. Dirinya hanya mengakui banyak pembeli, terutama jika hari-hari libur dan di akhir pekan.

Perbatasan RI-PNG di Skouw-Wutung, Distrik Muara Tami ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari Kota Jayapura, Papua. Ratusan pengunjung berdesakan melintas batas untuk menikmati panorama lautan Pasifik dan perkampungan warga di Wutung. Tak lupa juga mereka berfoto ria dengan latar tugu perbatasan, bendera PNG, souvenir dan tentara PNG penjaga perbatasan.

Suasana para pengunjung berfoto ria juga tampak di area perbatasan wilayah Indonesia, Skouw. Salah seorang pengunjung asal Jayapura, Arnoldus Yansen Magut mengatakan, dirinya baru pertama kali ke perbatasan yang baru diresmikan Presiden RI Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Ia mengaku tertarik dengan panorama dan alam PNG bagian barat atau ujung timur tanah Papua ini.

Amazing. Orang-orangnya juga baik dan ramah pada tiap pengunjung,” kata Arnoldus.

Menurut pria yang pernah menjadi tour guide ini, daerah perbatasan RI-PNG hendaknya dikelola baik oleh pemerintah setempat. Produk-produk lokal pun bisa dijual di kawasan perbatasan seperti noken Papua, ukiran dan produk-produk lainnya yang dihasilkan masyarakat serumpun yang dipisahkan dua negara ini.

Sementara pengunjung lainnya, Rosario Banera mengatakan, setelah  diresmikan Presiden Jokowi, kawasan ini ramai dikunjungi warga untuk menghabiskan masa liburan. Sebelumnya, kata dia, pengunjung di kawasan Skouw-Wutung bisa dihitung dengan jari.

“Saya yakin ke depan di perbatasan ini banyak pengunjung. Perlahan-lahan warga Jayapura dan sekitarnya lebih memilih libur akhir pekan di sini daripada di Pantai Base G, Holtekam, Hamadi dan Tablanusu, jika pemerintah dan masyarakat mengelolanya dengan baik,” kata Banera.[*]

Leave a Comment

*