Candaan Di Perbatasan


putra putri dayak

Batasnegeri.com: Orang-orang Dayak yang ada di perbatasan, dalam kehidupan sehari-harinya, memang bisa dikatakan unik, kalau tidak mau dikatakan rumit. Artinya, kehidupan masyarakat Dayak di perbatasan memiliki irama hidup yang agak berbeda dengan suku-suku Dayak lainnya atau suku-suku Indonesia pada umumnya.

Keunikan hidup mereka dapat dilihat dari bagaimana mereka mengatur irama keseharian di dua negara, Indonesia dan Malaysia. Bahkan, bukan hanya dua negara, tetapi juga dua budaya, yaitu budaya Indonesia dan budaya Malaysia, juga budaya Dayak itu sendiri.

Dalam hal ini perlu dicatat bahwa budaya Dayak, juga sebenarnya bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Malaysia. Banyak warga Malaysia di perbatasan juga berbudaya Dayak. Ini berlaku bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Malaysia.

Dayak Indonesia dan Dayak Malaysia itu terbentuk atau menyatu dalam suatu komunitas yang sudah tumbuh dan berkembang jauh sebelumnya. Imaji komunitas suku Dayak dari kedua suku yang dilandaskan pada kesamaan itu memang sudah terjadi jauh sebelumnya.

Suku-suku Dayak yang memiliki kesamaan antara Dayak Indonesia dan Dayak Malaysia adalah berasal dari Kabupaten Sintang dan Sanggau. Di Sintang sendiri misalnya ada di Binjai Hulu Ketungau Hilir Ketungan Tengah, dan Ketungan Hulu.

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi orang-orang Dayak dalam keseharian juga tidak terlepas dari kehidupan budaya. Dulu, aktivitas ekonomi masyarakat Dayak perbatasan sangat erat bergantung ke Malaysia, bukan ke Indonesia. Ini karena akses ke Malaysia jauh lebih gampang.

Misalnya saja saat mereka harus menjual hasil bumi, mereka tak mungkin menempuh jarak yang jauh dengan kondisi daya. medan yang berat hanya demi menjauhkan diri dari hubungan dengan Malaysia.

Pilihan menjual hasil bumi dan barang dagangan ke Malaysia adalah pilihan praktis yang dipengaruhi kondisi riil, bukan masalah suka atau tidak suka. Berhubungan dengan Malaysia bukan berarti itu menunjukkan masyarakat tidak cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Memang dulu sebelum infrastruktur kita ditangani, kita melihat bahwa mereka juga menjalin ekonomi dengan daerah tetangga (Malaysia), karena tidak mungkin mereka menjual ke daerah kita karena daerah perbatasan jauh sekali. Bukan berarti mereka tidak cinta NKRI kalau dulu.

Tak perlu meragukan nasionalisme masyarakat Dayak di perbatasan. Kini dengan adanya pembangunan Jalan Paralel Perbatasan, mereka sudah bisa lebih intens berhubungan dengan kawasan dalam teritorial Indonesia.

Beberapa bulan lalu ada Gawai Dayak di kawasan perbatasan yang digelar masyarakat. Jeffray datang langsung dan dia melaporkan suasana yang terbentuk sangatlah nasionalis.

Soal Ringgit Malaysia

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa masyarakat Dayak di perbatasan dengan Malaysia, kerap menggunakan Ringgit, mata uang Malaysia sebagai alat tukar sehariari. Karena banyak orang Dayak perbatasan, yang sering mengatur kehidupan ekonomi seperti berbelanja di Malaysia dengan menggunakan bahasa Malaysia, yang biasa disebut Melayu Malaysia.

Bahkan di era penggalakan pembangunan infrastruktur perbatasan sekarang, masih ada juga masyarakat yang menggunakan Ringgit atau menjual dagangannya ke Malaysia dan mendapat duit Ringgit. Tak terkecuali masyarakat Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, dan sebagainya.

Bisa disebutkan beberapa desa melakukan tata kelola ekonomi dengan Malaysia. Di sini ada Desa Suruh Tembawang yang memuat dusun-dusun perbatasan seperti Gun Tembawang dan Gun Jemak yang masih sulit dicapai bila orang berangkat dari teritorial Indonesia.

Bagi warga di situ, akses menuju wilayah Malaysia yakni dari Gun Sapit justru jauh lebih mudah ketimbang harus ke Entikong. Dengan adanya Jalan Inspeksi Patroli Perbatasan yang sudah mulai dibangun, mereka mulai sedikit demi sedikit berusaha berkontak dagang dengan Entikong.

Akses ekonomi sekarang pelan-pelan mereka sudah menjual hasil ekonomi ke Entikong. Walaupun masih ada kecenderungan menjual ke Malaysia. Itu karena harga-harga barang-barang di Malaysia dikatakan jauh lebih baik.

Beberapa tahun lalu, orang-orang Dayak di perbatasan dengan Malaysia masih menonton televise siaran Malaysia. Sehari-hari, keterikatan dengan Indonesia juga dipengaruhi oleh sajian tontonan televisi.

Beruntung, sekarang mereka sudah bisa menonton siaran televisi dari Indonesia menggunakan parabola, padahal dulu mereka pernah mengalami masa sulit tak bisa menonton siaran televisi Indonesia.

Ada Candaan

Pusat Desa Suruh Tembawang sendiri sudah mulai terakses Jalan Inspeksi Patroli Perbatasan, meski masih buruk. Namun untuk dusun-dusun yang lebih pelosok seperti Gun Tembawang dan Gun Jemak, hubungan dagang dengan Malaysia masih lebih kuat. Mereka bakal kewalahan secara fisik dan biaya bila harus dipaksa menjual hasil ladangnya ke Entikong. Lagi-lagi masalah infrastruktur jalan menjadi hambatan.

Karena begitu dekatnya Dayak perbatasan yang kesehariannya lebih dekat dengan orang-orang Malaysia. Akibat lanjutannya, kehidupan ekonomi orang-orang Dayak dalam keseharian kerap muncul candaan, Indonesia di hati, garuda di dada, tetapi ringgit di dompet dan di perut.

Kerap juga ada pekikan begini, ‘NKRI harga mati!’ Bukan hanya ‘NKRI harga mati!’ namun juga ‘Garuda di dadaku’, tetapi di dompet dan perut terisi Ringgit Malaysia.

Semangat nasionalisme dan Cinta Tanah Air tetap bergelora di sanubari. Tetapi, kebutuhan hidup yang nyata-nyata mereka hadapi membuat mereka bertindak realistis saja, yaitu kebanyakan dari Malaysia.

Sumber: netralnews.com

Leave a Comment

*