Harmonisnya Warga Perbatasan Dua Negara; Sota Dan Morehead


silas

Batasnegeri.com: Suara pria itu lirih. Dengan malu-malu, tangannya menunjuk ke arah kampung di seberang tugu putih dekat tempat dia berdiri.

”Di sana, dekat sungai,” kata Silas Sinai, pria tersebut, dalam bahasa Indonesia fasih menjawab pertanyaan Jawa Pos tentang tempat asalnya Jarak antara “sana” yang dimaksud Silas dan “sini” tempat dia berdiri cuma beberapa meter. Tapi, beberapa meter itu tak hanya memisahkan dua distrik, Sota dan Morehead. Tapi sekaligus dua negara: Indonesia dan Papua Nugini (PNG).

Tugu putih berukuran setengah meter dekat tempat Silas berdiri itu adalah pembatasnya. Berada di Distrik Sota, Merauke, Papua, di tugu tersebut tertera angka 23 8 6. Lengkapnya, semestinya di belakang angka 6 terdapat 0.

Sayang, rumput dan tanah membuat 0 tidak kentara. Angka 23 8 60 itu merupakan tanggal, bulan, dan tahun ketika moyang di Desa Sota menetapkan batas dengan Distrik Morehead (PNG).

Selain itu, ada pilar Meridian Monument (MM) sebagai tanda perbatasan RI dengan PNG. Kalau melihat peta, perbatasan Indonesia dengan PNG berbentuk garis lurus. Memanjang dari Jayapura ke Kondo.

Total ada 52 pilar di sepanjang garis tersebut. Dengan jarak antara satu pilar dan lainnya 20 km.

Di Sota, jangan pernah membayangkan ketegangan khas perbatasan. Semisal yang kerap terdengar di tapal batas darat antara Indonesia dan Malaysia yang membujur di Kalimantan.

Yang tersaji sehari-hari justru harmoni antara warga dua negara. Puluhan, bahkan mungkin ratusan, warga kedua negara melintasi batas tiap hari. Merauke, barangkali, adalah wilayah Indonesia yang paling banyak dikunjungi warga asing.

Kebetulan, banyak warga Merauke dan Morehead yang memang masih satu fam atau terhitung keluarga. Antarkedua wilayah, jarang sekali terdengar adanya gontok-gontokan karena berebut wilayah. Atau gesekan lantaran tidak berkenan ada warga negara asing yang turut menikmati fasilitas.

Silas adalah salah satu contoh nyata harmoni itu. Hampir tiap hari dia harus pergi ke Sota untuk menjual hasil kebun. Sekaligus membeli kebutuhan sehari-hari.

Tak perlu bawa paspor. Cukup menunjukkan izin yang didapat dari imigrasi kepada tentara di perbatasan setiap masuk maupun keluar dari Sota.

Surat tersebut berupa lembaran kertas HVS ukuran A4. Terdapat nama-nama keluarga di dalam kolom.

Surat tersebut tidak berlaku lama. Setiap dua minggu, si pemegang harus memperbaruinya. Surat itu sekaligus menjadi semacam kartu identitas mereka.

Biasanya, Silas bersama keluarga masuk ke Indonesia saat pagi. Ketika bertemu Jawa Pos pada Selasa lalu (15/8), Basar Seuk, istri Silas, akan menjual anggrek.

Mereka mendapatkan anggrek dari hutan sekitar tempat tinggal mereka. Ada sepuluh pohon yang mereka bawa saat itu.

“Sepuluh ribu rupiah,” jawab Basar ketika ditanya harga masing-masing anggrek.

Masyarakat PNG yang tinggal di sekitar Sota memang masih menggunakan rupiah untuk bertransaksi. Maklum, mereka lebih banyak berkegiatan di Indonesia.

Itu pula yang membedakannya dengan perbatasan darat Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Di Sota, negeri jiranlah yang justru membutuhkan Indonesia. Tak cuma dalam urusan jual beli.

Menurut pengakuan Silas, pada tanggal 10 setiap bulan, mereka rutin pergi ke Sota. Anak dan cucu dibawa. Mereka mengikuti posyandu (pos pelayanan terpadu). Kalau sakit pun, mereka mendapatkan obat di Puskesmas Sota.

Daniel Meima adalah contoh lain betapa pentingnya Sota dan Merauke bagi warga PNG di perbatasan. Pelajar kelas dua SMK Pertanian Sota itu berasal dari negara yang beribu kota di Port Moresby tersebut.

Sudah dua tahun dia tinggal di Sota bersama seorang saudara. Tanpa surat izin tinggal. Daniel bahkan justru bingung ketika ditanya mengenai surat izin masuk. “SD-SMP di PNG. Tapi SMK jauh (jadi bersekolah di Sota, Red),” ucapnya ketika di¬≠tanya alasannya bersekolah di Indonesia.

Di sekolahnya kini, Daniel pun dikenai biaya Rp 500 ribu per semester. Biaya tersebut di luar biaya seragam.

Uang sekolah dikumpulkan Daniel lewat bekerja. Sesekali dia mengambil kayu bakar untuk dijual. Sedangkan perlengkapan sekolahnya tentu harus disesuaikan. Seragam yang dikenakan adalah abu-abu putih. Dia otomatis juga harus belajar bahasa Indonesia, bahasa pengantar di sekolah.

“Di PNG ada orang tua. Saya tidak pulang,” ujarnya.

Menurut Daniel, banyak teman sekolahnya yang juga berasal dari PNG. Saking banyaknya, sekolah menyediakan asrama untuk mereka yang berasal dari PNG. Dengan demikian, mereka tak perlu pulang pergi tiap hari.

Nama Sota merupakan gabungan dua kata: so-ta. Dalam bahasa setempat, artinya adalah sampai di sini. Akhirnya, Sota pun dijadikan nama tempat. Tugu itu sebenarnya bukan satu-satunya di Sota. Berjarak 20 meter sebelum tugu putih, terdapat tetenger lain.

Itu adalah replika si tugu putih. Bentuknya lebih besar. Lebih bagus. Lebih terlihat karena di kanan kirinya ada taman dengan pagar bambu dan kursi semen. Sekitar tugu perbatasan, jejak jalan setapak terbentuk di antara pohon-pohon Taman Nasional Wasur.

Distrik Sota berjarak 70 kilometer di timur Kota Merauke. Waktu tempuhnya dari bandara sekitar sejam dengan menggunakan mobil. Sebagian besar jalan menuju Sota sudah diaspal. Hanya beberapa bagian yang berlubang.

Jalan tersebut membelah Taman Nasional Wasur. Kanan kiri jalan berupa hutan dan rawa. Untuk menuju distrik tersebut, tidak ada kendaraan umum. Taksi bandara biasanya membanderol tarif Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Ada juga ojek motor.

Sepanjang jalan menuju Sota, tidak ada SPBU. Harga bensin di Merauke cukup murah jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Papua.

Di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, misalnya, harga satu liter bensin bisa mencapai Rp 12 ribu. Sementara itu, di Jayapura, harga bensin di SPBU milik Pertamina mencapai Rp 10.500 per liter. Sedangkan di Merauke hanya Rp 9.000 untuk harga di pedagang eceran.

Harga bahan pokok juga masih tergolong murah. Di Pasar Merauke, harga beras Rp 9.000-Rp 12.000. Pertanian di Merauke berkembang baik sehingga sebagian produk berasnya didistribusikan ke PNG.

Walapun harga semen di kabupaten yang menaunginya tergolong murah, sebagian rumah di Sota tetap terbuat dari kayu. Atapnya biasanya seng. Di beberapa kampung yang dekat dengan rawa, rumah warga bermodel panggung.

Untuk fasilitas kesehatan, masing-masing kampung di Distrik Sota memiliki puskesmas. Jika harus melakukan rujukan, RSUD Merauke biasanya menampung. Rumah sakit umum daerah tersebut bertipe C. Selain itu, di kota yang namanya diabadikan dalam lagu nasional Dari Sabang sampai Merauke tersebut juga terdapat RSAL Merauke.

Walaupun memiliki rumah sakit yang cukup besar, jika sakit cukup parah, pasien harus tetap dirujuk. Sayang, transportasi di Papua lebih banyak menggunakan pesawat terbang. Biayanya pun tidak murah. Dari Merauke ke Jayapura, misalnya, setidaknya dibutuhkan Rp 1,5 juta sekali jalan. Ke Makassar dan daerah lain di luar Papua, tentu jauh lebih mahal.

Tapi, dengan kondisi seperti itu pun, Merauke tetap menjadi gantungan bagi warga di negeri sebelah. Dalam banyak hal. Mulai menjual hasil kebun. Sampai anggrek yang dipetik dari hutan seperti yang dibawa istri Silas pada Selasa lalu itu.’

Sumber: jawapos.com

Leave a Comment

*