Kriminolog UI: Wilayah Perbatasan Harus Diperketat


perbatasan-laut-mudah-ditembus-bandar-narkoba-kriminolog-jumlah-aparat-jaga-tak-sebanding-dengan-luas-wilayah-nHtAoTgBt9

Batasnegeri.com: Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, sekitar 80% penyeludupan dan peredaran narkotika dilakukan melalui jalur laut. Lantas, kenapa perbatasan laut Indonesia mudah ditembus bandar narkoba internasional?

Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Ferdinand Andi Lolo mengatakan, perlu adanya peningkatan penjagaan wilayah perairan Indonesia karena dominan penyeludupan dilakukan melalui jalur laut, seperti yang baru polisi ungkap di kawasan Anyer, Banten, sabu seberat 1 ton.

“Perbatasan Indonesia panjang dan jumlah aparat yang berjaga tidak sebanding. Karena itulah perbatasan kita sering ditembus,” ujar Ferdinand, Kamis (13/7/2017).

Ia menyarankan, agar dilakukan pengetatan di wilayah perbatasan perairan sehingga penyelundupan semacam ini bisa dicegah. Padahal, kata dia, kawasan Anyer bukan merupakan wilayah pedalaman dan dekat dengan Ibu Kota Jakarta, tapi masih bisa ditembus oleh bandar narkotika jaringan internasioal.

“Bisa dibayangkan kalau wilayah perbatasan terpencil lainnya pun bisa jadi dimanfaatkan gembong narkoba. Biasanya mereka punya analisa tersendiri dan mereka punya uang untuk membayar orang yang menganalisa untuk menembus Indonesia. Mereka tahu bahwa perbatasan kita tidak dijaga dengan baik,” tutur dia.

Lebih lanjut Ferdinand menjelaskan, Indonesia menjadi pasar potensial pengedar narkoba internasional. Pasalnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar dan faktor ini yang menjadi daya tarik pengedar. “Di sisi lain, tingkat ekonomi masyarakat saat ini cukup tinggi sehingga mereka memiliki dana lebih untuk pengeluaran primer,” kata Ferdinand.

Soal hukuman, Ferdinand masih sepakat dengan ancaman mati. Sebab, pengedar narkoba sangat merusak generasi bangsa. “Saya masih sepakat hukuman mati,” uajrnya.

Sebelumnya, Satga Merah Putih yang terdiri dari Tim Gabungan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dan Polresta Depok dibawah pimpinan Kombespol Nico Afinta dan Kombespol Herry Heryawan telah melakukan pengungkapan penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu yang melibatkan empat orang warga negara Taiwan di Dermaga bekas Hotel Mandalika, Jalan Anyer Raya, Serang, Banten. Di sana, tim berhasil mengamankan barang bukti 51 kotak yang dibungkus plastik dengan total 1.000 kg (1 ton).

Tersangka yang diamankan, Chen Wei Cyuan dan Liao Guan Yu. Sementara satu orang pengendali atau bos bernama Lin Ming Hui ditembak mati petugas karena melakukan perlawanan saat dilakukan penangkapan. “Satu tersangka lagi atas nama Hsu Yung Li masih dilakukan pengejaran,” kata Kombes Herry.

Sumber: okezone.com

Leave a Comment

*