Merauke, Hasil Melimpah, Pemasaran Macet


VIN_9634

Batasnegeri.com – Izakod bekai, izakod kai. Satu hati, satu tujuan. Itulah motto kota Merauke. Motto ini terasa sangat relevan, mengingat Kota yang  sudah berusia 115 Tahun ini berdiam hampir seluruh suku dari bumi Nusantara, lengkap dengan keragaman budaya dan agama yang dianutnya.

Data BPS Kabupaten Merauke mencatat, di wilayah etalase terdepan Indonesia yang dihuni 200 ribuan penduduk ini terdapat 191 gereja Katholik, 165 gereja Protestan, dan 135 mesjid. Juga terdapat 8 pura dan dua vihara.

Pantai Lampu Satu, Merauke (D0k. batasnegeri)

Pantai Lampu Satu, Merauke (D0k. batasnegeri)

Laut nan luas dan jutaan hekter lahan pertaniannya yang subur, membuat kota ini tak mesti bergantung kepada daerah lain dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup. Semuanya disediakan oleh alam. Tinggal keterampilan dan keuletan penduduknya mengolah tanah, menabur benih, menebar jala dan melesak anak panah.

Akan tetapi tuntutan hidup modern ikut pula mengubah orientasi hidup manusia. Tak lagi cukup hanya menabur lalu menuai, tetapi juga bagaimana berbagi hasl tuaian dalam konteks inter-aksi ekonomi modern. Menjual apa yang dimiliki dan dihasilkan, untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan.

Mama-mama Papua membawa hasil bumi untuk dijual di Pasar Wamanggu, Merauke (dok. Batasnegeri)

Mama-mama Papua membawa hasil bumi untuk dijual di Pasar Wamanggu, Merauke (dok. Batasnegeri)

Di sinilah pasar menjadi locus terjadinya inter-aksi itu. Dan disini pulalah letak persoalan yang tengah dihadapi wilayah etalase terdepan Indonesia ini. Hasil bumi melimpah, namun tidak semuanya bisa terserap di pasar lokal.

“Panen berlimpah, pasar macet,” ungkap seorang Mama Papua yang dijumpai Batasnegeri.com sedang berjualan di pasar darurat ini, akhir Januari 2018 lalu.

Tidak hanya itu. Bangunan pasar Wamanggu yang terletak di pusat Kota Merauke juga tak cukup besar untuk menampung para pedagang lokal. Pasar yang memiliki 479 los ini sudah terisi penuh. Sebagian warga terpaksa menjajakan barang dagangannya di teras dan di halaman parkir.

Mama-Mama Papua pedagang hasil bumi di Pasar Wamanggu, Merauke (dok. Batasnegeri)

Mama-Mama Papua pedagang hasil bumi di Pasar Wamanggu, Merauke (dok. Batasnegeri)

Sebagian lagi memilih berjualan di pasar darurat yang terletak tak jauh dari Bandar udara Mopah. Pasar yang dikenal dengan nama pasar Baru ini, tampak ramai dikunjungi pembeli pada sore hingga malam hari. Ada pula mama2 yang pada pagi hari berjualan di pasar Wamanggu, dan pada sore harinya berjualan di tempat ini.

 

susana pagi hari di 'pasar baru' Mopah (dok. Batasnegeri)

susana pagi hari di ‘pasar baru’ Mopah (dok. Batasnegeri)

Memilih berjualan pada sore hari ini pasar ini, juga lantaran jauhnya tempat tinggal para pedagang. Mereka yang datang dari luar kota Merauke, baru tiba di pasar ini pada siang harinya, dan baru bisa berjualan pada sore harinya.

Harapan mereka sederhana. Agar Pemerintah membangun pasar permanen di tempat ini sehingga mereka bisa lebih layak berjualan, sebagaimana pasar Rufe’i di Sorong dan Pasar Pharaa di Sentani yang dibangun di era Pemerintahan Jokowi-JK.

Pedagang di 'Pasar Baru' Mopah (dok. Batasnegeri)

Pedagang di ‘Pasar Baru’ Mopah (dok. Batasnegeri)

Hasil melimpah, adalah berkat Tuhan yang mesti disyukuri oleh seluruh anak negeri. Secara kusus oleh warga Kabupaten Merauke, yang dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami surplus beras.

Pemerintah tentu sudah punya solusi untuk mendistribusikan hasil bumi dan hasil laut dari Kabupaten Merauke ke pasar dalam negeri maupun ekspor ke Negara tetangga. Sekaligus untuk memaksimalkan fungsi Bandar udara Mopah dan pelabuhan laut yang terdapat di Kota Rusa ini.

Kedua infrastruktur ini tentu dapat dikelola secara terintegrasi dengan program prioritas nasional, yang sedang dikerjakan oleh Pemerintahan Jokowi-JK, seperti program Tol Laut dan Jalan Trans Papua. (Gerry)

Leave a Comment

*