Penyelesaian Garis Batas, Solusi Meretas Ketertinggalan di Sebatik


garis batas Sebatik

Batasnegeri.com – ┬áPulau Sebatik yang posisinya berada di lepas pantai timur Kalimantan tercatat sebagai salah satu pulau terpencil Indonesia. Pulau ini terbagi atas dua wilayah, yaitu Sebatik wilayah utara menjadi bagian wilayah Malaysia. Sementara Sebatik wilayah selatan menjadi bagian wilayah Indonesia.

Pulau Sebaik wilayah Malaysia berpenduduk sekitar 25.000 jiwa, sedang Sebatik wilayah Indonesia perpenduduk sekitar 80.000 jiwa. Walaupun terdapat penjaga perbatasan, Pulau Sebatik tidak mempunyai dinding atau kawat berduri yang membatasi perbatasan dengan jelas.

Akademisi asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Kosasih Prijatna yang melakukan penelitian terhadap perbatasan Pulau Sebatik mengatakan, selama ini pengukuran perbatasan Malaysia dan Indonesia didasarkan pada batas yang ditetapkan oleh perjanjian Belanda dan Inggris yang diteken oleh kedua negera penajajah itu jauh sebelum negeri ini merdeka.

“Dalam Artikel IV Konvensi London yang ditetapkan pada tahun 1891, garis perbatasan di Pulau Sebatik paralel dengan 4o10′ Lintang Utara,” tulisnya dalam artikel di blok ITB.

Namun saat ini telah terjadi perbedaan, telah terjadi perbedaan koordinat antara garis batas yang disebabkan penggunaan teknologi pengukuran saat itu dengan sekarang.

“Hal inilah yang mendasari terjadinya permasalahan perbatasan di Pulau Sebatik,” ujarnya. Apalagi, kata Kosasih lagi, dari belasan pilar yang menandai perbatasan Indonesia dan Malaysia itu, beberapa pilar sudah hilang, termasuk pilar paling barat.

Menurut Kosasih, sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah karena pilar timur masih berdiri. Untuk mendapatkan garis perbatasan yang valid, hanya perlu penarikan garis paralel ke arah Barat. Namun, hal ini tidak dapat diterapkan. Mengapa? Karena selain karena masalah teknologi dan pemetaan, juga karena ada aspek sosial politik yang terlibat.

Ketidakjelasan batas wilayah antara negara menjadi penghambat bagi perkembangan daerah-daerah perbatasan tersebut. Regulasi Indonesia tegas mengatur, bahwa uang negara tidak dapat digunakan untuk membangun daerah-daerah yang statusnya tidak jelas.

Faktor inilah yang mengakibatkan kondisi ekonomi di Sebatik bagian Indonesia tergolong buruk. Kondisi infrastruktur kurang memadai. Selain itu, penduduknya harus menyebrang terlebih dahulu ke Malaysia untuk melakukan jual beli hasil tani mereka dengan harga yang rendah.

Maka perlu pendekatan teknis dan politis untuk mempercepat penyelesaian batas negara. Termasuk peran akademisi dan ahli batas untuk memberikan masukan kepada pihak pemerintahan agar semuanya dapat diintegrasikan.[*]

Leave a Comment

*