Pesona Pantai Wemasa di Balik Benteng Peninggalan Jepang


Pantai Wemasa

Batasnegeri.com: Kecamatan Kobalima merupakan salah satu kecamatan yang berbatasan langsung dengan Distrik Covalima (Suai), Timor Leste ini memiliki potensi keindahan laut tersendiri sebagai aset daerah bagi Kabupaten Malaka, Timor Barat perbatasan Indonesia dan RDTL itu. Pesona pantai selatan yang kerap disebut kalangan warga Pantai Lo’odik terletak di Desa Litamali, Wemasa, Kecamatan Kobalima.

Keindahan pantai Lo’odik saat ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pasalnya pantai selatan itu kini menjadi objek wisata warga sekitar Kecamatan bahkan umumnya warga Malaka juga luar Kabupaten Malaka. Untuk menempuh lokasi pantai Lo’odik dari pusat ibu Kota Malaka membutuhkan waktu kurang lebih satu jam atau menempuh sekitar belasan kilo meter. Untuk menuju lokasi pantai, pengunjung bisa menggunakan kendaraan  melalui persimpangan SMP Wemasa searah dengan lokasi Masin Lulik dan hutan Maubesi.

Pantai yang memiliki batas laut dengan Negara Australia itu berbeda dengan pantai lainnya, pantai Lo’odik atau sebutan klasik sejak dulu pantai Wemasa itu memiliki daya tarik tersendiri untuk para pengunjung untuk kegiatan rekreasi atau sekedar bersantai. Hamparan pasir putih yang membentang luas sepanjang pesisir pantai disertai gelombang laut yang tinggi atau sering disebut dalam bahasa daerah tetun tasi mane (laut laki) membuat pantai itu eksotis.

Satu hal yang lebih unik dan menarik dari lokasi wisata pantai Lo’odik yakni selain memiliki hamparan pasir yang panjang, di tepi pantai itu juga terdapat dua buah bangunan benteng tua peninggalan Jepang ketika itu yang hingga saat ini masih menyisihkan banyak kenangan pada masa penjajahan. Dengan kemegahan benteng tua yang termakan usia itu belum mendapat perhatian dari pemerintah namun pantai itu bersama dua benteng memiliki keunikan tersendiri sehingga masyarakat sekitarnya menjadikan lokasi itu sebagai tempat rekreasi karena disekitar lokasi udara terasa sejuk ketika hembusan angin menerpa pohon cemara.

Paling tidak, lokasi wisata pantai ini berbeda dengan keindahan wisata pantai lain yang tidak memiliki benda-benda bersejarah peninggalan penjajah seperti yang dimiliki pantai Wemasa. Mungkin lokasi wisata pantai lain hanya sekedar menjadi tempat rekreasi untuk melepas lelah ataupun memberi rasa kesenangan pada setiap pengunjung. Pantai Wemasa sudah sejak lama menjadi tempat rekreasi favorit bagi masyarakat Kobalima dan sekitarnya. Infrastruktur jalan serta penataan lokasi pantai mulai dibenahi pemkab Malaka guna meningkatkan daya tarik wisatawan mancanegara maupun lokal.

Stef, salah seorang warga yang ditemui di pantai Lo’odik mengaku, jumlah pengunjung meningkat drastis ketika hari libur. Lokasi pantainya tetap ramai dikunjungi setiap hari mulai dari anak-anak bahkan sampai orang dewasa untuk menghirup udara segar dan melepas lelah dikawasan lokasi itu.

“Sekarang tambah ramai, hampir setiap hari banyak pengunjung yang datang. Kalau hari libur mereka datang rekreasi dan makan siang di pantai setelah itu sorenya mereka kembali. Pengunjung sangat menikmati keindahan laut dan gelombangnya yang tinggi, apalagi angin yang sejuk dari pohon cemara buat mereka semakin betah dan menikmati keindahan alamnya,” ujar dia.

Selain memiliki pantai yang bersih dan pesona laut yang indah pantai wemasa juga memiliki suatu keindahan khas bagi warga wemasa sebab persis di pesisir pantai terdapat benteng tua peninggalan masa jepang. Sehingga keindahan itu membuat masyarakat yang mengunjungi pantai wemasa untuk rekreasi cukup ramai.

Senada diungkapkan warga lainnya, pengunjung banyak yang datang bersama keluarga, ada juga pasangan muda-mudi dari wilayah Koblima bahka dari luar Kobalima seperti dari Betun, Besikama, Boas dan dari tempat lain bahkan dari Atambua juga. Dikatakan, akses jalan raya untuk menuju ke pantai Wemasa sudah bagus untuk dilewati kendaraan baik roda dua maupun empat. Searah dengan lokasi Masin Lulik dan hutan Maubesi.

Diabadikan media akhir pekan lalu, pantai Wemasa nampak indah dan mempesona dengan riak gelombang yang tinggi memecah pasir dibibir pantai serta derasnya angin yang sejuk dari kedalaman laut. Bentangan pasir putih sekitar 2.000 meter di sepanjang pesisir pantai yang kerap disebut Lo’odik itu membuat suatu keindahan yang tersendiri. Di lokasi pantai itu juga terdapat beberapa lopo dan tempat duduk yang dibuat warga untuk pengunjung bersantai.

Sepintas terlihat gambar garis putih yang memanjang membatasi bibir pantai yang berbatasan laut dengan Australia itu. Selain itu terlihat dengan jelas di kejauhan pesisir pantai Suai, hutan Maubesi dan pesisir pantai Motadikin membentuk setengah lingkaran dengan rimbunan pepohonan cemara yang berbaris di sepanjang pantai.

Sumber : www.nttonlinenow.com

Leave a Comment

*