Tak ada Akses Transportasi, Warga Amfoang Minta Bantuan Jokowi


Ambeno-timor leste

Batasnegeri.com –¬†Masyarayat adat terpencil di Kampung Bonmuti, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur mengharapkan pemerintah membangunkan mereka rumah layak huni. Mereka juga meminta akses jalan raya menuju Bonmuti yang berbatasan dengan Ambeno (Oecusse), negara Timor Leste.

“Kondisi kehidupan kami sangat memprihatinkan karena tidak ada akses transportasi menuju kampung tradisional ini. Rumah yang kami tempati masih beratap alang-alang dan berlantai tanah,” kata tokoh masyarakat adat Bonmuti, Arnoldus Nailius ketika ditemui di Bonmuti, Jumat (30/6/2017).

Kampung lama Desa Bonmuti berada di bawah lembah gunung Mutis dan berada tidak jauh dari Ambenu, Timor Leste. Untuk menjangkau kampung tradisional itu harus menempuh perjalanan selama 18 jam dari Kupang dengan melintasi empat sungai.

Kampung itu dihuni 100 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sebanyak 200 jiwa.

“Kita sangat mengharapkan bantuan dari bapak Presiden Joko Widodo untuk membantu pembangunan rumah layak huni bagi warga masyarakat terpencil di Bonmuti ini, termasuk membuka akses jalan raya menuju kampung Bonmoti yang berbatasan dengan negara Timor Leste ini,” kata Nailius.

Ia mengatakan, sudah ratusan tahun masyarakat Bonmuti hidup dalam kondisi terisolir dari akses transportasi dan komunikasi sehingga sangat tertinggal dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Kupang. “Sudah sejak lama kami merindukan jalan raya, karena tidak ada akses jalan raya sehingga kami sulit menjual hasil bumi, padahal daerah ini memiliki hasil bumi yang melimpah, seperti kopi, madu, jeruk, kemiri dan beras,” kata Nailius.

Hal senada dikatakan Kepala Desa Bonmuti, Daud Daniel Neno. Menurut dia, Kampung Bonmuti lama sangat terisolir dari aspek transportasi dan komunikasi sehingga dibutuhkan adanya akses jalan jalan raya agar kehidupan masyarakat dikawasan perbatasan dengan negara Timor Leste ini menjadi lebih baik.

Ia menjelaskan, masyarakat Bonmuti tidak ingin pindah dari kampung tradisional ini karena sumber kehidupan mereka berada di daerah ini. “Mereka memiliki hasil bumi yang melimpah, namun tidak bisa dijual ke luar karena akses transportasi ke daerah ini sangat sulit, sehingga hasil bumi digunakan untuk makan,” kata Neno.

Ia mengatakan, akibat kondisi wilayah yang sangat terisolir itu sehingga anak-anak berusia sekolah di kampung ini mengurungkan niat untuk bersekolah. “Banyak anak-anak usia sekolah tidak melanjutkan sekolah di kampung ini,” kata Neno.

Sumber: Antara

Leave a Comment

*