Waspada! Asing Bakal Rebut Indonesia Melalui Narkoba


narkoba

Batasnegeri.com: Ledakan populasi penduduk dunia hingga mencapai 8 miliar pada 2017 tidak diikuti dengan penambahan jumlah daratan di mana manusia tinggal hidup di atasnya.

Kebutuhan hidup 8 miliar penduduk dunia akan sandang, pangan, papan, dan energi menjadi suatu keniscayaan yang tak terhindarkan. Sementara di sisi lain alam dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya sangat terbatas dan tidak bisa diperbarui.

Belum lagi pola sebaran potensi alam dengan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak merata dan hanya berpusat di wilayah ekuator meliputi Indonesia, sebagian wilayah Afrika dan Amerika Latin yang bercurah hujan sepanjang tahun dengan dua musim sebagai pusat hutan hujan (rainforest) yang menjadi paru-paru dunia.

Dalam konteks Indonesia, selain rainforest dengan keanekaragaman hayati, dibanding Afrika dan Amerika Latin, Indonesia memiliki keunggulan sebagai wilayah ring of fire yang dipenuhi oleh gunung gunung berapi aktif yang menghasilkan keanekaragaman kandungan deposit kekayaan mineral dengan kualitas terbaik di dunia.

Dari paparan di atas terlihat bagaimana potensi kekayaan alam, alih-alih menjadi kekuatan malah justru menjadi kelemahan, juga bukan menjadi peluang namun malah menjadi ancaman bagi keberlangsungan perikehidupan bertanah air, berbangsa, dan bernegara.

Dalam konstalasi geopolitik internasional dan persaingan global, wilayah Indonesia menjadi wilayah yang sexy untuk diperebutkan oleh negara negara lain yang berkepentingan untuk bisa bertahan dalam konteks survival of the fittest.

Pemahaman akan peta masalah tersebut di atas, akhirnya menjadi dasar untuk menelisik dan menguak apa yang sesungguhnya terjadi di balik maraknya peredaran narkoba yang meracuni generasi muda.

Bukan lagi rahasia, di sejumlah negara, narkoba diposisikan sebagai alutsista (alat utama sistem pertahanan-senjata) dari Perang Generasi Keempat yang dilakukan secara asymetric melalui proxy untuk menguasai suatu wilayah. Sejarah telah mencatat bagaimana Hongkong jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1842 melalui Perang Opium.

Upaya pelemahan bahkan proses genosida tengah berlangsung di negeri ini dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya demi sebesar-besarnya penguasaan alam dengan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Maraknya penggunaan narkoba yang melanda generasi muda mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas hidup yang mengancam mandeknya kemerdekaan nalar dan kewarasan akal sehat pada generasi muda sehingga dengan mudah didorong untuk terjadinya konflik horisontal melaui isu SARA dan kesenjangan ekonomi.

Maka tak heran jika saat ini kita melihat bagaimana kampus kehilangan sikap kritisnya, mahasiswa terjebak pada pragmatisme sehingga kehilangan daya laku dan daya guna dari intelektualitasnya.

Ironisnya, semua elite politik terbutakan matanya dan malah asyik sibuk berebut kekuasaan tanpa peduli kelangsungan masa depan hidup bertanah air, berbangsa, dan bernegara.

Itulah akhir dari nasib suatu bangsa ketika negeri telah terjajah oleh negara!

Leave a Comment

*